Pertamax Berpotensi Tembus Rp20.000 per Liter Akibat Konflik Di Selat Hormuz setelah eskalasi geopolitik kembali mendorong harga minyak dunia menembus US$100 per barel. Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyebut harga Pertamax dan Pertamina Dex dapat bergerak ke kisaran Rp18.000–Rp20.000 apabila harga minyak dunia tidak turun kembali ke level US$60–US$70 per barel. Pernyataan tersebut menggambarkan skenario harga, bukan keputusan kenaikan resmi. Hingga pertengahan September 2026, Pertamax reguler masih dipasarkan Rp15.950 per liter di wilayah DKI Jakarta dan sejumlah wilayah dengan struktur pajak serupa.
Ringkasan : Pertamax Berpotensi Tembus Rp20.000
- Pertamina menyebut Pertamax dapat bergerak ke kisaran Rp18.000–Rp20.000 per liter jika minyak dunia tetap tinggi.
- Harga resmi Pertamax reguler di DKI Jakarta masih Rp15.950 per liter pada September 2026.
- Brent menutup perdagangan 11 September di US$104,61 per barel ketika gangguan pasokan Timur Tengah terus menekan pasar.
Pertamax Berpotensi Tembus Rp20.000 Masih Berupa Potensi
Pertamina Patra Niaga belum menetapkan Pertamax reguler sebesar Rp20.000 per liter. Eko Ricky Susanto menyampaikan kisaran Rp18.000–Rp20.000 sebagai kemungkinan apabila tekanan harga minyak mentah terus bertahan dan pasar belum kembali ke kondisi sebelum krisis geopolitik.
Pernyataan tersebut penting karena harga BBM nonsubsidi mengikuti berbagai indikator pasar. Pertamina mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, daya beli masyarakat, dan faktor lain sesuai formula pemerintah.
Pada 1 September 2026, Pertamina mempertahankan Pertamax reguler di Rp15.950 per liter untuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Perusahaan justru menaikkan Pertamax Turbo menjadi Rp19.600, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter.
Pertamax Green 95 kemudian naik menjadi Rp19.150 per liter mulai 2 September. Dengan demikian, beberapa BBM nonsubsidi memang sudah mendekati atau melampaui Rp20.000 di sejumlah wilayah, tetapi Pertamax reguler belum mencapai angka tersebut.
Konflik Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Kembali di Atas US$100
Tekanan terbesar datang dari pasar energi global. Brent menutup perdagangan Jumat, 11 September 2026 pada US$104,61 per barel, sedangkan West Texas Intermediate berada di US$100,05 per barel. Kedua acuan tersebut membukukan kenaikan mingguan lebih dari delapan persen.
Pasar merespons serangkaian serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi di Timur Tengah. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun tajam, sementara gangguan juga menyentuh jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi.
Situasi kembali memburuk pada 13 September. UK Maritime Trade Operations menerima laporan bahwa proyektil menghantam sebuah kapal di Selat Hormuz. Arab Saudi juga menutup sementara pipa East-West setelah serangan drone mengenai jalur tersebut.
Pipa East-West sebelumnya mengalirkan sekitar empat hingga lima juta barel minyak per hari dan membantu Arab Saudi menghindari gangguan Hormuz. Penutupan jalur tersebut menambah kekhawatiran pasar karena Selat Hormuz sendiri masih mengalami gangguan besar akibat perang.
Sebelum konflik memburuk, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair harian dunia. Kondisi itu menjelaskan mengapa gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat dengan cepat mengubah harga minyak internasional.
ICP Indonesia Juga Naik dan Menambah Tekanan Harga BBM
Harga minyak mentah Indonesia ikut meningkat. Kementerian ESDM menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price atau ICP Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel. Angka tersebut naik US$7,75 dari posisi Juli sebesar US$81,68 per barel.
Kementerian ESDM mengaitkan kenaikan tersebut dengan risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan pada jalur distribusi minyak internasional. Pemerintah juga menyoroti ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah serta serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas energi.
Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga memengaruhi biaya BBM. JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.611 per dolar AS pada 11 September 2026. Rupiah yang lebih lemah membuat pembelian minyak dan produk bahan bakar dalam dolar menjadi lebih mahal jika faktor lain tetap sama.
Pertamina karena itu menghadapi dua sumber tekanan sekaligus. Harga minyak meningkat dalam dolar, sementara kurs menentukan berapa rupiah yang perusahaan butuhkan untuk membayar impor atau komponen biaya berbasis valuta asing.
Harga Pertamax Tidak Otomatis Mengikuti Setiap Lonjakan Minyak
Meski harga minyak melonjak, Pertamina tidak selalu langsung menyesuaikan Pertamax dengan besaran yang sama. Formula harga BBM nonsubsidi mempertimbangkan lebih dari satu variabel dan perusahaan juga memperhatikan daya beli masyarakat serta kondisi sosial.
Situasi September memberikan contoh yang jelas. Pertamina mempertahankan Pertamax reguler di Rp15.950 meskipun menaikkan beberapa produk nonsubsidi lain secara signifikan.
Karena itu, masyarakat tidak dapat menghitung harga Pertamax hanya dengan mengalikan persentase kenaikan Brent atau ICP. Struktur pajak daerah, kurs, formula harga, biaya distribusi, dan kebijakan badan usaha ikut menentukan harga akhir di SPBU.
Harga Pertamax juga berbeda menurut wilayah. Pada September 2026, sebagian wilayah Sumatera mencatat harga Rp16.300 hingga Rp16.650 per liter, sementara wilayah lain menerapkan angka berbeda sesuai struktur Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
Dengan demikian, angka Rp20.000 perlu dipahami sebagai batas skenario yang Pertamina sampaikan dalam kondisi minyak global tetap mahal, bukan tarif nasional yang sudah berlaku.
Pertalite dan Biosolar Berada dalam Skema Berbeda
Pertamax termasuk BBM nonsubsidi sehingga mekanisme harganya berbeda dari Pertalite dan Biosolar bersubsidi. Pada September 2026, pemerintah masih mempertahankan Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi meskipun ICP meningkat dan rupiah melemah. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat, meskipun kondisi pasar global tetap dapat meningkatkan tekanan terhadap subsidi dan anggaran energi.
Perbedaan ini penting karena kenaikan Pertamax tidak otomatis berarti pemerintah akan menaikkan Pertalite pada waktu yang sama. Pemerintah menentukan harga BBM bersubsidi melalui kebijakan tersendiri.
Namun, harga minyak tinggi dalam jangka panjang tetap dapat meningkatkan beban ekonomi. Pemerintah, Pertamina, pelaku logistik, industri, dan konsumen menghadapi biaya energi yang lebih tinggi melalui jalur yang berbeda.
Arah Harga Pertamax Bergantung pada Minyak, Rupiah, dan Hormuz
Pergerakan berikutnya sangat bergantung pada perkembangan konflik. Berita mengenai perundingan pengelolaan Selat Hormuz sempat menekan harga minyak pada Jumat, tetapi serangan baru pada Minggu kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan.
Iran dan negara-negara Teluk dijadwalkan membahas masa depan Selat Hormuz di Oman. Namun, Reuters melaporkan pihak Iran belum mengharapkan pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang langsung membuka kembali jalur secara normal.
Jika pasokan membaik dan Brent turun mendekati kondisi sebelum krisis, tekanan terhadap Pertamax dapat berkurang. Sebaliknya, konflik berkepanjangan dapat mempertahankan harga minyak dan produk kilang pada level tinggi.
Konsumen karena itu perlu membedakan antara perkembangan pasar dan pengumuman harga resmi. Pertamina biasanya mengumumkan setiap penyesuaian BBM nonsubsidi melalui kanal perusahaan, sedangkan harga dapat berbeda antarwilayah.
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Anjlok
Penutup
Pertamax Berpotensi Tembus Rp20.000 per Liter Akibat Konflik Di Selat Hormuz menggambarkan risiko harga yang Pertamina sampaikan ketika minyak dunia kembali berada di atas US$100 per barel. Pertamina menyebut kisaran Rp18.000–Rp20.000 dapat muncul apabila harga minyak tidak kembali menuju US$60–US$70, tetapi perusahaan belum menetapkan Pertamax reguler Rp20.000 secara resmi. Saat ini, Pertamax masih Rp15.950 per liter di DKI Jakarta dan sejumlah wilayah lain. Arah harga berikutnya akan bergantung pada perkembangan Selat Hormuz, harga minyak internasional, ICP, nilai tukar rupiah, serta kebijakan harga Pertamina. Karena itu, skenario Rp20.000 perlu dibaca sebagai potensi, bukan kepastian.
FAQ
1. Apakah harga Pertamax sudah Rp20.000 per liter?
Belum untuk Pertamax reguler di DKI Jakarta. Harga yang berlaku pada September 2026 masih Rp15.950 per liter.
2. Mengapa muncul angka Pertamax Rp20.000?
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga menyebut Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi berada di kisaran Rp18.000–Rp20.000 jika harga minyak dunia tidak turun.
3. Berapa harga minyak dunia terbaru?
Brent menutup perdagangan 11 September 2026 pada US$104,61 per barel, sedangkan WTI berada di US$100,05.
4. Mengapa Selat Hormuz memengaruhi harga BBM Indonesia?
Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan energi global. Gangguan pengiriman dapat mengurangi kelancaran pasokan dan menaikkan harga minyak serta produk bahan bakar.
5. Berapa ICP Indonesia terbaru?
Pemerintah menetapkan rata-rata ICP Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel, naik dari US$81,68 pada Juli.
6. Apakah Pertalite juga akan naik menjadi Rp20.000?
Tidak ada keputusan seperti itu. Pertalite tetap Rp10.000 per liter pada September 2026 dan berada dalam skema harga bersubsidi yang berbeda dari Pertamax.
7. Faktor apa yang menentukan harga Pertamax?
Pertamina mempertimbangkan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, pajak, formula pemerintah, daya beli masyarakat, serta faktor relevan lainnya.